LSM RATU Soroti Program MBG di Kota Kediri: “Ini Bukan Soal Kenyang, Tapi Gizi dan Masa Depan Bangsa”
Kediri – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan di tengah masyarakat. Kali ini, perhatian publik tertuju pada kualitas makanan yang disajikan dalam program tersebut, setelah muncul sejumlah keluhan warga terkait menu yang dinilai belum memenuhi standar kebutuhan gizi anak.
Polemik ini mencuat pada Rabu (1/4/2026), setelah beredarnya sejumlah foto paket makanan MBG di berbagai grup WhatsApp. Dalam foto tersebut, menu yang disajikan dinilai kurang layak dan belum mencerminkan komposisi gizi seimbang yang seharusnya menjadi tujuan utama program tersebut.
Sejumlah warga menilai bahwa dengan anggaran sebesar Rp8.000 per porsi, meskipun tergolong terbatas, pihak pengelola seharusnya tetap mampu menghadirkan makanan yang lebih berkualitas. Terutama dalam hal pemenuhan protein hewani yang dianggap masih sangat minim dalam paket makanan yang dibagikan.
Kondisi ini pun memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat Rakyat Muda Bersatu atau LSM RATU. Organisasi tersebut secara tegas menyampaikan kritik terhadap pelaksanaan program MBG di Kota Kediri yang dinilai belum optimal.
Ketua LSM RATU, Saiful Iskak, menyayangkan kualitas pelayanan program yang menurutnya menyangkut hak dasar anak-anak untuk mendapatkan asupan gizi yang layak. Ia menegaskan bahwa program pemerintah seharusnya tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga benar-benar memberikan manfaat nyata bagi penerima.
Menurut Saiful, persoalan ini tidak bisa dianggap sepele. Ia menilai bahwa kualitas makanan yang tidak sesuai standar gizi justru dapat berdampak pada tumbuh kembang anak dalam jangka panjang, terutama jika program tersebut berlangsung secara berkelanjutan.
“Para pejabat berwenang harus segera turun tangan dan menindaklanjuti temuan ini dengan tegas. Jangan sampai masalah ini dibiarkan berlarut hingga membuat masyarakat kembali geram,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa ketidaksesuaian antara anggaran dengan kualitas makanan yang disajikan menjadi perhatian serius. Bahkan, ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap masa depan generasi muda jika tidak segera diperbaiki.
“Ini bukan persoalan kenyang, tapi gizi dan masa depan anak bangsa. Jika menu yang diberikan tidak layak dan tidak memenuhi standar gizi, maka itu adalah persoalan serius yang harus segera dibenahi,” lanjut Saiful.
Hingga saat ini, masyarakat masih menunggu respons dari pihak terkait mengenai evaluasi dan perbaikan pelaksanaan program MBG di Kota Kediri. Harapannya, program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak ini dapat berjalan sesuai dengan tujuan awal dan memberikan manfaat optimal bagi generasi penerus bangsa.