Poltracking Indonesia baru-baru ini merilis hasil survei terkait Pilkada Jawa Timur 2024 yang memperlihatkan peta pertarungan elektoral antara tiga pasangan calon. Survei yang dilakukan pada 4-10 September 2024 ini melibatkan 1200 responden dengan margin of error sebesar +/- 2.9%. Dalam survei ini, Poltracking berupaya menangkap dinamika elektoral pasca pendaftaran pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur ke KPUD Jawa Timur. Peta elektoral ini sangat menarik karena mempertemukan tiga sosok perempuan yang dijuluki sebagai “tiga srikandi” dalam kontestasi politik ini.
Sosok Khofifah Indar Parawansa, Gubernur petahana, masih menjadi kandidat kuat dalam Pilkada ini. Pada simulasi calon tunggal Gubernur, Khofifah memperoleh angka elektabilitas sebesar 55.3%, mengungguli dua rivalnya, Tri Rismaharini yang mendapatkan 22.8% dan Luluk Nur Hamidah yang hanya memperoleh 1.8%. Dengan angka elektabilitas ini, Khofifah tampaknya masih memiliki daya tarik yang kuat di kalangan masyarakat Jawa Timur, terutama dengan keberhasilannya dalam menjalankan program-program pemerintah daerah selama masa jabatannya.
Di sisi lain, pertarungan di posisi Calon Wakil Gubernur juga memperlihatkan persaingan yang signifikan. Emil Elestianto Dardak, wakil gubernur petahana, memimpin dengan elektabilitas sebesar 51.7%. Ia diikuti oleh Zahrul Azhar Asumta dengan 9.9%, dan Lukmanul Khakim yang meraih 3.2%. Posisi Emil yang kuat ini tak lepas dari kiprahnya bersama Khofifah dalam menjalankan pemerintahan, yang menurut survei juga diapresiasi oleh mayoritas masyarakat Jawa Timur.
Pada simulasi pasangan calon, Khofifah-Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak kembali mendominasi dengan angka elektabilitas 57.3%. Pasangan ini unggul jauh dari pasangan Tri Rismaharini-Zahrul Azhar Asumta yang memperoleh 22.7%, sementara pasangan Luluk Nur Hamidah-Lukmanul Khakim hanya meraih 2.2%. Keunggulan pasangan Khofifah-Emil ini tampaknya dipengaruhi oleh popularitas program-program pemerintahan mereka, seperti Jatim Sejahtera dan Jatim Kerja, yang mendapat apresiasi luas dari masyarakat.

Peta sebaran pemilih juga menunjukkan tren yang menarik. Pasangan Khofifah-Emil berhasil meraih dukungan dari berbagai wilayah di Jawa Timur, termasuk wilayah Aglomerasi-Kultural seperti Arek, Mataraman, Tapal Kuda, Pantura, dan Madura. Selain itu, mereka juga unggul di kalangan pemilih dari suku Jawa dan suku Madura, yang merupakan dua kelompok etnis terbesar di Jawa Timur. Ini menunjukkan bahwa pasangan petahana memiliki daya tarik yang luas, baik secara geografis maupun etnis.
Tak hanya itu, pasangan Khofifah-Emil juga berhasil menarik dukungan dari berbagai kelompok umur, mulai dari Generasi Z hingga Silent Generation. Hal ini menunjukkan bahwa pasangan ini mampu menjangkau berbagai generasi, baik yang muda maupun yang lebih senior. Apresiasi terhadap program-program inovatif seperti Millennial Job Center tampaknya menjadi faktor kunci dalam menarik dukungan dari pemilih muda.
Sementara itu, pemilih yang merasa dekat dengan organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) juga cenderung memberikan dukungan kepada pasangan Khofifah-Emil. Mengingat NU memiliki pengaruh yang signifikan di Jawa Timur, hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi pasangan petahana. Selain itu, pasangan ini juga mendapat dukungan dari mayoritas pemilih partai politik seperti PKB, Gerindra, Golkar, Demokrat, dan PPP, sementara pasangan Risma-Zahrul mendapat dukungan signifikan dari pemilih PDI Perjuangan.
Survei ini juga menunjukkan adanya split ticket voting di kalangan pemilih PKB, yang menarik untuk disimak lebih lanjut dalam konstelasi politik yang semakin dinamis menjelang hari pemilihan. Berdasarkan preferensi pemilih dalam Pilpres 2024, pasangan Khofifah-Emil lebih banyak didukung oleh pemilih Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming, sedangkan pasangan Risma-Zahrul lebih banyak didukung oleh pemilih Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Temuan ini memberikan gambaran bahwa pasangan Khofifah-Emil masih mendominasi dalam berbagai aspek elektoral, mulai dari evaluasi kinerja hingga peta dukungan berdasarkan wilayah, suku, umur, dan afiliasi politik. Namun, dengan sisa waktu menuju pemilihan pada 27 November 2024, segala kemungkinan masih bisa terjadi tergantung pada perkembangan isu dan strategi kampanye yang dilakukan oleh masing-masing pasangan calon.