Sikap Arogan Kepala SMKN 1 Kota Kediri Tuai Kecaman, LSM Desak Dinas Pendidikan Ambil Tindakan Tegas
Kediri, Jawa Timur – Dunia pendidikan di Kota Kediri kembali tercoreng akibat ulah pimpinan sekolah. Sebuah video yang kini beredar luas memperlihatkan sikap arogan Kepala SMKN 1 Kota Kediri, Edi Suroto, saat menerima kunjungan salah seorang wartawan berinisial W pada Senin, 4 Agustus 2025. Dalam tayangan tersebut, Edi terlihat marah dengan nada suara tinggi, menunjuk-nunjuk wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistiknya.
Kejadian ini bermula ketika wartawan W datang untuk menanyakan soal kemungkinan kerja sama publikasi atau iklan media. Namun, bukannya menerima dengan santun, Kepala Sekolah justru melontarkan penolakan keras dengan sikap intimidatif yang tidak mencerminkan etika kepemimpinan seorang pendidik.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sikap emosional Edi Suroto diduga dipicu oleh kabar bahwa Aliansi Media Kediri sebelumnya telah menyampaikan permintaan kepada pimpinan Cabang Dinas Pendidikan untuk mencopot dirinya dari jabatan kepala sekolah. Sayangnya, amarah itu malah dilampiaskan kepada wartawan yang tidak berkaitan langsung dengan isu tersebut.
“Ini sungguh memalukan dan tidak pantas dilakukan oleh seorang kepala sekolah. Dari video yang beredar, jelas terlihat bagaimana sikap Edi sangat jauh dari contoh kepemimpinan yang baik,” ungkap Mat Siswondo, Ketua LSM Gerak, dengan nada geram.
Wondo juga mengingatkan bahwa seorang kepala sekolah wajib memiliki kompetensi manajerial, kepribadian, dan sosial sebagaimana diatur dalam Permendikbud No. 6 Tahun 2018. “Jika seorang kepala sekolah justru menciptakan lingkungan yang tidak sehat, otoriter, dan intimidatif, maka jelas ia telah melanggar kode etik kepemimpinan pendidikan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pendidikan memerlukan pemimpin yang melayani, bukan menguasai. Kepala sekolah bukanlah penguasa kecil di sekolah, melainkan pelayan publik yang harus menjadi teladan dan pengayom. “Kita butuh kepala sekolah yang inklusif, demokratis, dan visioner jika benar-benar ingin meningkatkan kualitas pendidikan di Kediri,” tambah Wondo.
LSM Gerak pun mendesak agar Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan Gubernur Jawa Timur segera turun tangan. Mereka meminta adanya tindakan transparan dan tegas terhadap kasus ini agar tidak terulang di masa depan. “Jangan biarkan satu oknum mencoreng nama baik pendidikan di Kota Kediri,” pungkas Wondo.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak SMKN 1 Kota Kediri belum memberikan keterangan resmi ataupun klarifikasi terkait insiden tersebut. Awak media masih menunggu respon dari pihak sekolah maupun dinas terkait atas peristiwa yang sudah menjadi perhatian publik ini.
(ratu)

