KEDIRI – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-122 yang dilaksanakan Kodim 0809/Kediri di Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri tidak hanya fokus pada pembangunan fisik. Di samping pengerasan jalan, rehabilitasi rumah tinggal layak huni, musholla, dan pembuatan sumur bor air bersih, TMMD juga berupaya melestarikan kearifan lokal yang ada di desa tersebut. Salah satunya adalah pagelaran wayang Mbah Gandrung, yang menjadi ikon budaya desa setempat.
Wayang Mbah Gandrung sendiri merupakan pertunjukan langka yang jarang bisa dinikmati masyarakat luas. Pagelaran wayang ini hanya dilakukan pada momen-momen tertentu, seperti saat peringatan Suroan atau ketika ada warga yang memiliki nazar dan mengundang pertunjukan tersebut. Dalam TMMD ke-122 ini, pagelaran wayang Mbah Gandrung dimainkan oleh Dalang Mbah Gani dengan lakon “Minak Jinggo”.
Komandan Satgas TMMD 122, Letkol Inf Aris Setiawan, menyampaikan bahwa pelestarian budaya lokal seperti wayang Mbah Gandrung menjadi salah satu tujuan penting dalam pelaksanaan program TMMD. “Kami ingin agar budaya lokal yang ada di Desa Pagung ini lebih dikenal oleh masyarakat luas. Wayang Mbah Gandrung adalah salah satu kearifan lokal yang sangat berharga dan perlu dilestarikan,” ujarnya.
Menurut Letkol Aris, keberadaan wayang Mbah Gandrung bukan hanya sekadar pertunjukan seni biasa, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang penting. Rumah yang menjadi tempat penyimpanan wayang ini dahulu pernah digunakan oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman sebagai tempat persinggahan saat melakukan perjuangan melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia. Hal ini menambah makna sakral dari wayang tersebut.
Siswoyo, yang bertanggung jawab atas pelestarian wayang Mbah Gandrung, menjelaskan asal-usul wayang ini. Menurutnya, wayang Mbah Gandrung ditemukan oleh nenek moyangnya yang berasal dari sebuah kayu hanyut di sungai yang terletak di kawasan pegunungan. Uniknya, wayang ini tidak dibuat oleh manusia, melainkan sudah berbentuk wayang ketika ditemukan di dalam kayu tersebut. “Wayang ini bukan wayang hiburan biasa, melainkan sakral dan digunakan untuk tujuan pengobatan atau ketika seseorang meminta pertolongan,” jelas Siswoyo.
Wayang Mbah Gandrung telah diwariskan secara turun-temurun selama sembilan generasi. Salah satu keunikan dari wayang ini adalah ketika diundang untuk tampil di tempat lain, wayang tersebut tidak bisa diangkut menggunakan kendaraan apa pun. “Pernah suatu kali wayang ini dinaikkan ke kendaraan, tetapi kendaraannya tidak bisa menyala. Akhirnya, wayang ini harus dibawa dengan cara berjalan kaki,” tambah Siswoyo.
Selain itu, Siswoyo juga menjelaskan bahwa wayang ini terdiri dari lima tokoh utama, yaitu Mbah Gandrung kakung, Mbah Gandrung putri, Mbah Sedanapapa, Mbah Jaka Luwar, dan Mbah Semar. Tokoh-tokoh ini ditemukan di dalam kotak yang sama, bersama dengan wayang Mbah Gandrung. Keberadaan wayang-wayang ini menambah kekayaan cerita dalam setiap pertunjukan yang digelar.
Pagelaran wayang Mbah Gandrung yang digelar dalam rangkaian TMMD ke-122 ini tidak hanya bertujuan untuk hiburan, tetapi juga untuk mendoakan agar seluruh kegiatan TMMD di Desa Pagung berjalan lancar dan sesuai harapan. Siswoyo berharap, dengan adanya pagelaran ini, masyarakat Desa Pagung semakin mengenal dan mencintai warisan budaya leluhur mereka.
Pelestarian wayang Mbah Gandrung melalui program TMMD ke-122 ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga budaya lokal. Selain itu, langkah ini juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda dan masyarakat luas agar tidak hilang ditelan zaman.
(guh)