Aksi Damai Aliansi Masyarakat Indonesia Bersatu di Kota Kediri Desak Penindakan Dugaan Korupsi Dana KUR oleh BRI
Kediri, 27 Mei 2025 – Puluhan massa dari Aliansi Masyarakat Indonesia Bersatu menggelar aksi damai di depan Kantor Kejaksaan Negeri Kota Kediri, Selasa pagi, sebagai bentuk protes terhadap dugaan korupsi dalam penyaluran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh Bank BRI di Kota Kediri. Massa menuntut agar aparat penegak hukum segera mengusut tuntas kasus yang dianggap telah merugikan negara dan masyarakat kecil.
Aksi ini dipicu oleh temuan adanya dugaan manipulasi data nasabah KUR yang dilakukan oleh oknum di BRI. Dalam orasinya, massa mengungkapkan bahwa sejumlah orang yang tidak layak, termasuk individu dengan gangguan jiwa, bisa mendapatkan pinjaman dana KUR hingga Rp50 juta. Dugaan tersebut mengindikasikan adanya sindikat yang memanfaatkan program KUR untuk keuntungan pribadi.
“Awalnya banyak masyarakat dijanjikan hibah dari pemerintah, tapi ternyata mereka justru dimanfaatkan namanya untuk pengajuan kredit. Ini jelas manipulasi data oleh pihak BRI,” teriak salah satu orator dari atas mobil komando. Massa juga menuding bahwa sindikat di balik penyaluran dana KUR ini melibatkan lebih dari satu pihak, termasuk petugas lapangan atau mantri BRI.
Beberapa tuntutan yang disuarakan dalam aksi ini antara lain: “Tangkap Sindikat KUR BRI”, “KUR BRI Sarana Bobol Uang Negara”, “Diskriminasi Penyaluran KUR”, hingga “KUR BRI Hanya untuk Orang Dalam”. Mereka juga menyoroti adanya diskriminasi dalam penyaluran dana KUR, di mana pelaku UMKM asli kesulitan mendapatkan akses, sementara orang yang tidak memenuhi syarat malah bisa memperoleh pinjaman dengan mudah.
Dalam aksi tersebut, beberapa perwakilan dari aliansi melakukan mediasi dengan pihak Kejaksaan Negeri Kota Kediri dan diterima oleh Nur Ngali, perwakilan dari Kejari. Dalam pertemuan itu, Aliansi meminta agar seluruh pegawai BRI yang terlibat segera diperiksa dan ditindak tegas. Mas Revi, salah satu tokoh aksi, juga menyampaikan kekecewaannya karena surat audiensi yang dikirim sebelumnya diabaikan oleh pihak BRI.
Nur Ngali menyatakan bahwa kasus dugaan penyimpangan dana KUR di BRI Unit Pesantren saat ini sudah dalam proses penanganan. “Untuk unit-unit lain masih dalam tahap penyelidikan dan pendalaman. Kami akan menindaklanjuti laporan masyarakat ini,” ujarnya.
Usai dari kantor Kejari, massa kemudian melanjutkan aksinya ke Kantor Cabang BRI Kota Kediri. Di depan kantor tersebut, mereka kembali menyuarakan tuntutan yang sama, menuntut transparansi dan keadilan dalam penyaluran dana KUR, serta mendesak BRI untuk memperbaiki sistem dan mengusut tuntas sindikat yang terlibat.
Pihak BRI akhirnya menemui massa dalam sesi mediasi yang juga dihadiri oleh aparat kepolisian yang dipimpin AKP Iwan S, serta perwakilan dari OJK dan BRI Kanwil. Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Fita dari OJK, Prasetyo dari bagian operasional BRI, dan Irwan dari BRI regional. Namun, mediasi tersebut berakhir tanpa titik temu, dan belum ada kejelasan sikap dari pihak BRI terkait tuntutan massa.
