Berita

Lahirnya Yakuza Maneges, Pejabat hingga Ulama yang Terlibat Kejahatan Mulai Ketar-Ketir?

KEDIRI – Deklarasi organisasi sosial dan spiritual Yakuza Maneges yang dipimpin Den Gus Thuba Topo Broto Maneges atau yang akrab disapa DGT terus menjadi perbincangan publik. Kehadiran organisasi yang berpusat di Kediri tersebut dinilai membawa semangat baru dalam mengawal persoalan sosial serta mendukung tegaknya supremasi hukum di tengah masyarakat.

Yakuza Maneges hadir dengan visi sebagai “penjaga yang lemah, pembela yang benar, dan pembenah yang salah.” Filosofi tersebut dianggap relevan dengan kondisi sosial saat ini, ketika masyarakat menginginkan adanya gerakan yang berpihak kepada korban dan kelompok rentan yang selama ini sering kali tidak mendapatkan perlindungan maksimal.

Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap berbagai kasus dugaan korupsi, penyalahgunaan jabatan, hingga kejahatan seksual yang melibatkan oknum dari berbagai kalangan, kehadiran Yakuza Maneges dinilai menjadi simbol perlawanan terhadap budaya pembiaran dan ketakutan. Organisasi ini disebut berani menyuarakan keadilan tanpa memandang status sosial seseorang.

Sejumlah kalangan menilai gerakan sosial yang konsisten mengawal keadilan dapat menjadi pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang kebal hukum. Baik pejabat, tokoh masyarakat, maupun tokoh agama memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum apabila terbukti melakukan tindak pidana.

Den Gus Thuba dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya tidak dibentuk untuk mencari musuh. Menurutnya, Yakuza Maneges lahir untuk berdiri di pihak kebenaran dan mendukung proses hukum berjalan secara adil, transparan, dan tanpa intervensi dari pihak mana pun.

“Kami akan memantau dan menindak tanpa pandang bulu kasus di tengah masyarakat, pejabat, bahkan ulama yang melenceng sekalipun, khususnya dalam hal asusila,” tegas DGT.

Pernyataan tersebut mendapat perhatian luas dari masyarakat. Banyak pihak menilai bahwa sikap tegas tersebut sejalan dengan harapan publik yang menginginkan penegakan hukum dilakukan tanpa diskriminasi serta tidak menjadikan jabatan, popularitas, pengaruh sosial, maupun simbol tertentu sebagai tameng untuk menghindari proses hukum.

Sebagai cucu ulama kharismatik KH. Hamim Djazuli, Den Gus Thuba dikenal memiliki pendekatan dakwah yang merangkul berbagai lapisan masyarakat, terutama kaum marginal. Namun demikian, dalam persoalan kejahatan yang merugikan masyarakat, khususnya yang menyangkut anak-anak, perempuan, dan kelompok rentan, ia dikenal memiliki sikap yang sangat tegas.

Pengamat sosial menilai apabila Yakuza Maneges mampu konsisten mengawal isu-isu keadilan sosial, perlindungan korban, serta mendorong keberanian masyarakat untuk melapor, organisasi tersebut berpotensi menjadi kekuatan moral yang berpengaruh di tengah masyarakat. Keberadaannya diharapkan dapat memperkuat kontrol sosial terhadap berbagai bentuk penyimpangan.

Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan Yakuza Maneges adalah bahwa jabatan, gelar, kekuasaan, maupun pengaruh sosial tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari pertanggungjawaban hukum. Setiap individu yang terbukti melanggar hukum harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai ketentuan yang berlaku.

(ratu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Sinergi TNI-Polri dan Masyarakat di Kediri Peringati Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XXI Tahun 2024 SUPER AIR JET Perkenalkan Rute Penerbangan Langsung Kediri-Balikpapan dengan Promosi Menarik Upaya DPRD Kabupaten Kediri Menjaga Kebhinekaan Bukber Bersama Satlantas Polres Kediri: Mempererat Tali Silaturahmi dan Meningkatkan Keimanan PSSI Kota Kediri berangkatkan Tim U13 ke Bali Kediri Bersiap Menyambut Musim Kemarau Polres Kediri Kota Tingkatkan Patroli Malam untuk Antisipasi Perang Sarung Selama Ramadhan Kapolsek Mojoroto Ajak Pelajar SMK PGRI 2 Kediri Stop Aksi Bulliying Bagi Bagi Takjil Insan Seni dan Awak Media Kapolsek Mojoroto Gelar “Ngopi Bareng Media (PIRAMIDA)”