Pendidikan

Beli Seragam Harus Tunai, Janda di Kediri Terpaksa Berhutang Demi Pendidikan Anak

KEDIRI – Kebijakan SMKN 1 Kota Kediri yang mewajibkan pembelian seragam sekolah dilakukan secara tunai tanpa opsi cicilan, menuai sorotan publik. Seorang ibu berinisial D, warga Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, yang berstatus janda, mengaku kesulitan memenuhi kewajiban pembelian seragam sekolah anaknya yang diterima di sekolah tersebut. Total biaya pembelian seragam mencapai Rp2.100.000, dan harus dibayar lunas sebelum seragam diberikan.

D yang sehari-hari berjualan nasi kuning ini hanya memiliki uang sebesar Rp500 ribu saat anaknya dinyatakan diterima. Karena tidak diperbolehkan mencicil, ia terpaksa mencari pinjaman dari saudara dan temannya agar anaknya bisa mendapatkan seragam sekolah tepat waktu. Menurut D, pihak sekolah tidak akan memberikan seragam jika belum lunas.

“Alhamdulillah anak saya diterima di SMKN 1 Kota Kediri, tapi saya bingung karena seragam harus lunas dulu baru diberikan. Saya cuma punya uang 500 ribu, akhirnya saya terpaksa cari hutangan ke saudara dan teman,” ungkap D, Kamis (24/7/2025).

Lebih lanjut, D mengatakan bahwa meskipun pihak sekolah menyatakan pembelian seragam tidak wajib dari sekolah, namun nyatanya hampir semua wali murid memilih membeli langsung di sana. Alasannya, agar warna dan model tidak berbeda, sehingga anak tidak merasa malu di sekolah. Sayangnya, bukti pembayaran pun tidak diberikan secara resmi, hanya selembar kertas kecil sebagai tanda lunas.

“Kalau beli di luar takut beda warna, nanti anak saya jadi minder dan malas sekolah. Harusnya pihak sekolah hanya menyediakan seragam khusus seperti baju praktik dan olahraga, bukan semuanya. Apalagi saya tidak diberi kuitansi resmi, hanya secarik kertas saja,” tambahnya.

Menanggapi situasi ini, Agung Setiawan dari Aliansi Pemuda Kediri menyayangkan kebijakan sekolah yang dinilai membebani wali murid, terutama dari kalangan ekonomi lemah. Ia khawatir banyak orang tua terpaksa berhutang ke bank ilegal (bank plecit) dengan bunga mencekik hanya demi membeli seragam sekolah anak.

“Kalau tidak bisa pinjam ke saudara, terpaksa ke bank plecit yang bunganya bisa lebih dari 20% per minggu. Ini bisa menghancurkan ekonomi keluarga kecil, hanya karena seragam,” ujar Agung.

Ia juga mengkritik harga seragam yang dinilai tidak sebanding, karena sebagian besar masih berupa kain dan harus dijahit sendiri. Seragam olahraga memang sudah jadi, tapi sisanya tetap memerlukan biaya tambahan untuk menjahitkan.

Agung menegaskan, kewajiban membeli seragam di sekolah berpotensi melanggar aturan karena tergolong sebagai pungutan. Menurutnya, seragam bisa dibeli di pasar atau toko dengan harga bersaing, dan jika dibutuhkan keseragaman, bisa dilakukan melalui koperasi atau sistem kolektif yang lebih transparan.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMKN 1 Kota Kediri belum memberikan tanggapan atau klarifikasi resmi terkait kebijakan pembelian seragam tersebut. Publik pun menunggu sikap tegas dari Dinas Pendidikan untuk menelusuri dan mengevaluasi dugaan praktik pungutan yang memberatkan orang tua siswa.

(ratu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Sinergi TNI-Polri dan Masyarakat di Kediri Peringati Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XXI Tahun 2024 SUPER AIR JET Perkenalkan Rute Penerbangan Langsung Kediri-Balikpapan dengan Promosi Menarik Upaya DPRD Kabupaten Kediri Menjaga Kebhinekaan Bukber Bersama Satlantas Polres Kediri: Mempererat Tali Silaturahmi dan Meningkatkan Keimanan PSSI Kota Kediri berangkatkan Tim U13 ke Bali Kediri Bersiap Menyambut Musim Kemarau Polres Kediri Kota Tingkatkan Patroli Malam untuk Antisipasi Perang Sarung Selama Ramadhan Kapolsek Mojoroto Ajak Pelajar SMK PGRI 2 Kediri Stop Aksi Bulliying Bagi Bagi Takjil Insan Seni dan Awak Media Kapolsek Mojoroto Gelar “Ngopi Bareng Media (PIRAMIDA)”